Thursday, August 03, 2006

tears in my mind...

"papa sudah senang sekarang...",

begitu sebaris kata dari tante
magda, kakak dari mendiang papa
yang telah meninggalkanku, mama dan
2 adikku, senin 24 juli 2006 silam.
magdalena sumilat, sulung dari 7
bersaudara anak pasangan [alm]
daniel cornelius sumilat dan
wulanintan polii beserta adrian
kandouwtje sumilat dan linda
christine sumilat berada di
surabaya senin silam itu.

sejatinya, hanya oma, om oce dan
tnt linda saja yang ingin ke
surabaya untuk menjenguk mendiang
papa yang sedang sakit kala itu.
hampir sebulan lamanya, ia harus
terbaring lemah di rumah sakit.
namun sebuah kabar pilu pada senin
pagi-pagi sekali merubah rencana
besuk tersebut menjadi "besuk" yg
sesungguhnya.

"udah abisin aja dok...", kata papa
waktu suster untuk yg kesekian kali
meminta sampel darah untuk d
periksa. memang udah hampir puluhan
kali nadi di tangan kanan maupun
kiri papa ditusuk oleh jarum
penyedot darah, untuk mengetahui
perkembangan ttg penyakit yg d
deritanya.

menurut mama, bukan masalah
penyakitnya yg d keluhkan oleh
mendiang papa, namun sakitnya
pengambilan darah yg d lakukan oleh
suster juga tempat jarum infus
tersebut berada... bahkan menurut
cerita mama, sampe beberapa suster
yang junior aja keder untuk
mengambil darah dari tubuh papa
karena nadinya sepertinya susah d
temukan...

ada sebuah rencana dariku dan juga
adikku rene, untuk membawa papa
bila sembuh nanti untuk tinggal d
jakarta saja untuk beberapa bulan
sesuka dia aja untuk menenangkan
diri atau apalah... namun rencana
tinggal rencana, manusia boleh
berencana tapi Dialah yang
menentukan apakah rencana itu
berhasil atau tidak...

tak ada lagi kesempatanku untuk
melihatmu lagi pa... hanya tubuh
yang terbaring biru kaku karena
formalin itu saja yang kupandang

maafkan anakmu ini yang belum
melakukan apa-apa untukmu dan untuk
keluarga kita pa...

maafkan atas segala kelakuan anakmu
yang tidak berkenan baik terhadapmu
sebagai orangtua maupun terhadap
lingkungan sekitar...

masih banyak lagi maaf yang ingin
terlontar saat ini... namun rasanya
lidah ini serasa hanya berisi
sesal yang tak kunjung padam hanya
karena telah meremehkan
KekuatanNya...

sebuah rasa percaya diri akan
kesembuhan papa yang aku pegang
kala itu, sayang tidak terjadi...
aku tidak berhasil membawamu ke
jakarta pa... aku telah salah
prediksi... aku telah salah duga...
atau apapun itu... hanya sebagai
manusia saja aku sadar bahwa aku
tidak bisa mendahului keinginanNya.
stasiun pasar turi mungkin menjadi
pertemuan terakhir kita, tapi suara
serakmu kala itu menjadi
pemungkasnya...

radang tenggorokan yang berinfeksi
ke paru-paru merupakan penyebabnya
meski pembengkakan jantung juga
bronkhitis sempat masuk dalam
diagnosa dokter namun alasan
kematian papa termasuk dalam
penyakit typhus.

selamat jalan papa...
selamat jalan om alfred...
selamat jalan pak sumilat
selamat jalan fred...
selamat jalan penatua AJ.Sumilat...
selamat jalan Alfred Johannis Sumilat...

May God takes you to the much
better places than i can offered...
bye dad...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home