Monday, December 25, 2006

keajaiban natal

selasa pagi itu seketika saja orang-orang seisi rumah menjadi histeris, ketika oma mendadak terkulai lemah tak berdaya di pembaringannya. berbagai macam pikiran berkecamuk di dalam lubuk masing-masing orang di rumah. entah itu om,tante, rannu [adik sepupuku], aku, bahkan pretty [pembantu rumah]...
pagi itu memang oma tidak seperti pagi2 sebelumnya, dimana dia sudah rapi dan sibuk di depan meja makan menyiapkan sarapan walau hanya roti tawar dan mentega, so pasti ada di meja makan setiap pagi. jikalaupun tidak ada yang dapat di siapkan di meja kala itu, makanan dingin di kulkas pasti akan di panaskannya lagi... yang penting di meja makan ada sesuatu.
begitulah oma... menurutku dia adalah sosok yang sangat mandiri sekali, benar-benar produk masa lalu, artinya semua yang di lakukannya dari dulu semenjak opa masih hidup hingga sekarang usianya mencapai 86 tahunpun masih sama dan tak berubah... dia masih pergi ke pasar sendiri entah itu untuk membeli sayur atau cabe, naek metromini ke kantor pos di tebet untuk membayar tagihan air atau listrik, memasak makan siang, ke acara lansia di gereja sendiri dan masih banyak lagi kegiatan yang dilakoninya...

tapi itulah... sekuat-kuatnya manusia pasti juga ada batasnya...
selasa pagi itu, setelah ia merayakan pesta ulangtahunnya pada hari minggu, iapun roboh... semangatnya telah hilang seketika pestanya selesai. tak ada lagi tangan keriput nan lincah menyalami sekitar 200-an orang yang hadir di pestanya itu. tak ada lagi raut tegar yang berdiri memotong kue ulang tahun dan kemudian membagi-bagikannya pada sekian ratus tangan menengadah ke arahnya.

ia terkulai dengan sukses di ruang perawatan darurat rumah sakit agung manggarai. dorongan oksigen dari selang yang menempel di hidungnya seolah tak berekasi apa-apa begitu juuga dengan selang infus yang beberapa saat kemudian di pasangkan ke tangan kirinya. begitulah kira2 keadaannya di ruang UGD rumah sakit agung kala itu. tante dan om tampak agak tegang menyikapi keadaan saat itu, begitu pula dengan rannu yang tak dapat menyembunyikan air mata yang tumpah dari sudut matanya.

"udah nu.. sabar... oma ga papa koq", ujarku sembari menggosok punggungnya kala itu.

dan ternyata, menurut diagnosa dokter ome mengalami stroke. hanya saja stroke oma hanya mengakibatkan badan sebelah kanannya tak bereaksi terhadap segala macam rangsangan. ia mengalami penyakit yang menurut dokter memang sudah waktunya dialami oleh orang seumurannya dia yakni penyakit tua...

***

sekarang 25 desember...
natal telah tiba... sambutlah bayi natal itu... dengan sukacita tentunya.
hari ini 7 hari setelah hari yang melelahkan itu... oma telah mengalami perkembangan yang luar biasa. meskipun selang makanan masih menempel pada hidungnya, ia sudah dapat menrespon perkataan dari kami, entah itu dengan suara lenguhan yang parau atau dengan mimik mata dan senyuman.
tercatat 3 kali sudah selang makanan yang menempel pada hidungnya terlepas hanya gara0gara kami lengah dalam mengawasinya... ia dengan leluasa 'menarik' selang itu dari hidungnya.

"padahal masangnya kan susah oma... aku aja ampe ga tega ngeliatnya koq..."

hari ini seperti hari-hari sebelumnya aku tetap menungguinya... melihat perkembangannya... mengecek kondisinya... kadan bosan juga siy hanya di kamar saja tidak berbuat sesuatu, kadang aku sempatkan ke kantor sebentar untuk mengecek email. ngomong2 soal kerjaan, akhirnya setelah berunding dengan keadaan dan atasan, akhirnya aku di bebas tugaskan sementara dari liputan namun konsekwensinya adalah aku harus masuk malam hingga pagi untuk menunggu editing.

"yahhh... gapapa deh yang penting masuk kantor", gumamku dalam hati.

***
aku memang berharap dalam natal kali ini...
meskipun aku tidak bisa merayakannya bersama mama kedua adikku di surabaya, paling nggak aku bisa merayakannya di sini di jakarta tentunya dengan suasana yang berbeda pula...
"maybe there is no christmas like we used to had... but there is many christmas that we use to had too..."
maksudnya paling tidak seperti ini, mungkin ini adalah natal pertama kali dalam hidupku tanpa papa... ya papa telah di panggil olehNya juli silam... dan aku tak ingin natal ini juga kualami pertamakalinya tanpa oma...
"semoga masih ada apa yang dinamakan keajaiban natal itu...", gumamku saat mengakhiri tulisan ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home