Tuesday, January 30, 2007

"Bermain" dengan Hati dan Jiwa

"beginilah perjuangan musisi blues tua untuk tetap eksis...", sebuah kalimat terlontar sukses dari mulutnya yang berhias jenggot putih tebal malam itu diatas stage warung apresiasi, bulungan.
dia sepertinya kecewa dengan kurangnya apresiasi yang diterimanya saat itu, dimana dalam nge-jamz begini sangat dibutuhkan player yang dengan sukarela bermain bersama dalam aroma spontanitas. saat kalimat itu terlontar, ia sedang membutuhkan seorang pemain drum untuk melengkapi permainan malam itu. namun hingga serak dipanggil tak ada satupun audience disitu yang menerima tantangan untuk ngejamz... akhirnya keluarlah kalimat tersebut seraya mendekati seperangkat drum sembari membawa mic.


yah... sejatinya Iskandar Mansyur adalah seorang drummer blues sejati. ia terbilang sangat senior jika kita berkaca pada perkembangan musik blues di tanah air tercinta ini. penulis sendiri mengenal atau dapat dibilang melihat penampilannya untuk pertama kali ketika ia bermain dan mengisi acara blues senin malam di TVRI medio 2000-an lalu. ia berduet dengan Sue Bonnington, vokalis blues kawakan dari Inggris yang telah lama bermukim di Indonesia. kemudian beberapa kali melihat aksi panggungnya di sebuah cafe di bilangan menteng yang menampilkan musik blues setiap rabu dan jumat setiap minggunya.

kemudian baru akhir tahun ini lagi dapat bertemu dengan beliau bahkan bertatap muka dan ngobrol sampai sekarang. ia sekarang telah identik dengan blues senin malam yang bertempat di Warung Apresiasi [WAPRESS], di pojokan bulungan, blok M, Jakarta Selatan. bagaimana caranya ia dapat nyampe kesitu tak akan penulis permasalahkan disini, namun bagaimana ia tetap ber-apresiasi terhadap musik yang dari dulu ia mainkan itu yang membuat penulis sadar bahwa penulis belum ada apa2nya dibanding beliau dalam mengapresiasi blues itu sendiri.


dalam sebuah obrolan setelah selesai ngejamz sembari menikmati teh poci hangat khas Wapress, kami pun berbincang ringan. dari mengenai hasrat, emosi dan pendapat yang terurai disitu dapat disimpulkan ini orang memang paham luar dalam mengenai Blues. terutama di negeri sendiri pastinya.

"hakekatnya, bila kita di atas sana [stage maksudnya] hanya alat musik kita yang "berbicara"... yang lain tidak...", begitulah kira2 pendapat singkat mengenai mengapa musisi blues bila sudah di panggung seakan saling mengisi dan melengkapi dalam nada dan selalu spontan adanya.
senin malam itu bersama Gugun, ia menghentakkan suasana blues yang terasa sangat kental di atmosfer Wapress. belasan tembang dari Nothing But The Blues, Run Sally Run, Still Got The Blues, hingga lagunya sendiri yang berjudul Nggak Boleh.




"apa nggak boleh, gimana nggak boleh, dimana nggak boleh, siapa nggak boleh, kapan nggak boleh... C.O.L.I nggak boleh huehuehuehue..."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home