Tuesday, April 13, 2010

aku ingin menulis | seri I

Aku ingin menulis…

Sudah sekian lama rasanya jemari ini tak mengetik sesuatu. Mengetik apa yang ada di otak, mengetik apa yang sedang dipikirkan. Terlampau sibuk dengan segala macam urusan dan seribu satu persoalan. Yang kadang dengan cueknya dirasa tak ada, atau memang ada namun di tiadakan. Ahhh… kembali meracau.

**********

38 menit sudah melewati hari ke 14 di bulan april ini. Tiba2 teringat bungkusan ajaib yang ku beli ketika bertugas di sebuah kota di ujung paling barat republik ini. Yaah.. sebungkus kopi mentah racikan chek yuke ini kubeli seharga 75 ribu rupiah. Sekilas tak ada yang aneh dengan kopi ini, hampir sama dengan kopi kopi yang laen. Hanya tumbukannya saja masih kasar sehingga bulir2 kopi masih terlihat.

“dijamin abe, bila kau reguk kopi ini dengan cara menyeduh seperti yang kuberitahu, akan terlihat perbedaannya dengan kopi2 di luar sana…” begitu tegas chek yuke kala itu.

Aku sangat yakin ada ‘campuran’ rempah khas aceh di dalam kopi itu.. makanya banyak orang bilang sesekal cobalah mengopi di sana, dan rasakan bedanya. Tapi aku yakin tidak ada itu yang namanya campuran ganja ato apalah.. yang ada adalah cara penyeduhan tradisional yang dimiliki oleh chek yuke yg dipelajarinya turun temurun dari kakek neneknya.

**********

Batang ke 3 marlboro light ku sudah kumatikan. Tapi tetap saja mata ini masih belom juga berkompromi dengan rasa ngantuk.

“jiaaah.. abis pula rokok gw” seruku dalam hati

Teringat cerita tentang rokok. Rokok ini adalah rokok special sebagai tanda mata berhentinya aku dari rimba kelam bernama keren Canabis Sativa. Entah dimana sekarang “barang” itu berada… sengaja kupajang di lemari bajuku sebagai kenang2an akan berbagai macam petualangan yang ku lalui bersama teman2nya.

“Ahhh… biar saja dia sendiri sepi mengunci diri entah dimana” sahutku dalam hati lagi

Sempat beberapa kali tergoda untuk menghisapnya ketika itu, namun itulah cobaan yg harus kuhadapi dalam upaya untuk berhenti dari ketergantungan asap sorga ciptaannya. Memang ku akui rasa bernama sugesti itu melekat erat dalam diriku. Hehehee… biarlah menjadi goresan asa abadi yang pernah kukecap.

**********

Labels: