Tuesday, May 03, 2011

catatan #6


"maybe redemption is easy to tell"


kutipan diatas tak sengaja kudengar dari sebuah lirik lagu. dimana-mana kalimat pertama memang selalu yang tersulit dalam memulai sebuah tulisan. namun ide selalu bisa datang dari mana-mana saja. seperti sekarang ini. :-)

mungkin pencobaan itu paling mudah untuk diceritakan. kira-kira begitulah arti dari kutipan diatas. tentu saja dengan segala kekuranganku dalam bahasa inggris. tapi paling tidak itu terjemahan yang menurut paling mendekati. hehehe. setiap manusia pasti akan mengalami yang namanya pencobaan. iya. cobaan hidup. *sotoy deh gw*

cobaan yang aku alami mungkin hanya remeh bagi sebagian atau beberapa orang. namun paling tidak inilah yang menyebabkan aku menulisnya disini. biarpun tidak menjamin akan selesai, paling tidak membantuku untuk meringankannya dalam menjalani cobaan tersebut.

tersebutlah sebuah pernyataan dari seorang teman. itu bila dia masih menganggap aku temannya. dia secara vulgar menulis bahwa aku adalah objek baginya. entah maksud pernyataannya itu apa, namun yang aku tangkap bahwa aku [mungkin] adalah objek penderita baginya, objek untuk dihina dina, atau objek untuk bahan lucu-lucuan menurutnya.

sejak terakhir aku berkorespondensi dengannya yang mengakibatkan aku mengambil sikap diam. aku berusaha untuk tidak memasukkan hal tersebut dalam hati. meskipun secara aturan pertemanan yang umum, yang aku tahu itu salah. secara terang-terangan ia menyinggung masalah pribadi yang pernah aku ceritakan padanya dan seorang teman lagi di forum umum. dimana semua orang di forum tersebut bisa membaca dan menafsirkannya. masa bodoh dengan penafsiran orang per orang di forum itu. hanya saja yang aku sesalkan pernyataannya waktu itu membuatku tersinggung berat. sebab hal itu dilakukan oleh orang yang aku percayai dapat menyimpan rapat cerita itu.

jadi apakah aku salah bila akhirnya aku mendiamkannya. karena jika aku terpancing, itu sama saja membuka cerita yang seharusnya aku dan dia simpan sebagai komitmen di awal sejak aku menceritakannya. bukan masalah cerita yang aku permasalahkan disini. ceritanya hanya cerita hubungan dengan lawan jenis. no big deal. hanya saja seharusnya kan tidak di singgung di forum umum. dimana komitmen yang sejak awal di amini untuk tidak dibahas. apa yang terjadi dengan "what's on kubang stay on kubang". mana buktinya? ahh... jadi esmoni kan niy. :-(


"i dare you to move"


sekarang bagaimana? sebuah tanya yang akupun tak tahu harus menjawab apa. masalah itu harus diselesaikan dibidang datar. menurut istilah salah seorang penulis yang kuhormati karena tulisannya memiliki daya pengaruh yang luar biasa. duduk bersama [mungkin] dapat menjadi pemecah masalah. mencari jalan keluar bersama dari semua kejadian yang telah terjadi. diperlukan kepala dingin untuk membicarakan masalah ini. duduk bersama seraya menyeruput secangkir kopi. hanya itu yang dapat aku tawarkan kepadamu.

dimana kita dapat duduk bersama, sesama kita yang tahu duduk permasalahannya itu dimana. jikalau bisa empat mata malah lebih baik. namun seperti seorang teman pernah berkata kepadaku bahwa neraka hidup adalah keinginan. jadi apakah keinginanku ini adalah sebuah neraka hidup? aku tidak tahu. dan kamupun tidak tahu. mari kita coba untuk merasakannya.

salam,
Alf

Labels:

Putaran Bonus

Langkah kaki yang berusaha aku tahan tak jua membuat kami melambat. Rasanya malah semakin cepat. Pagar rumahnya sudah terlihat. Itu artinya sebentar lagi kami harus berpisah. Aku berusaha meredam keresahan yang lebih mirip pedih. Sesuatu yang nisbi ini berlaku pula padaku. Ini hari terakhirku bersamanya. Setidaknya, mungkin terakhir, karena aku tidak tahu kapan lagi bisa menemuinya. Sedikit keberuntungan sudah aku terima malam ini. Dia bersedia menemaniku jalan. Tapi aku tak yakin apa masih punya sisa keberuntungan lain.

Dan sampailah kami di depan rumahnya. Malam sudah sangat larut, hampir dinihari. Aku tak berharap dia akan mengajakku masuk, karena kupikir itu tak mungkin. Lagipula, sebejat-bejatnya, aku juga masih punya sopan santun untuk tidak bertamu terlalu malam. Aku merapikan kerah jaket, mencoba menghalau dingin. Dia mengikuti dengan menurunkan lengan bajunya yang tadi tergulung, dan kini menutupi hampir setengah telapak tangannya. Di keremangan cahaya bulan, aku bisa melihat jari-jari mungilnya yang mencuat dari ujung baju, putih dan agak tremor. Ah, jari-jari itu, masihkah bisa kugenggam esok hari?

"Aku akan tinggal kalau kamu meminta," kataku. Dia menggeleng.

"Kamu akan berusaha tinggal kalau kamu memang mau," katanya pelan, dan tiba-tiba mengingatkanku pada sesuatu yang tidak bisa aku lawan, sesuatu di luar kuasaku.

Kami terdiam cukup lama. Setidaknya untuk ukuran orang yang berdiri di depan pagar. Kehilangan kata.

Lalu aku menyentuh rambutnya seolah-olah dia anak kecil yang baru saja berbuat baik, seperti yang sering aku lakukan.

"Aku ingin memelukmu. Tapi tak mungkin aku lakukan di sini. Tapi kalau kamu tak keberatan, aku masih ingin jalan bersamamu malam ini. Satu putaran bonus saja. Kita memutar di ujung jalan sana dan kembali ke sini lagi. Lima belas menit paling lama..."

Dia tidak menyahut. Tapi kakinya memberi isyarat akan bergerak. Aku lalu meraih tangannya. Terasa jari-jarinya yang dingin menyusup masuk sela-sela jariku. Kami tak banyak bicara lagi.

Malam itu, aku mendapatkan putaran bonusku. Satu lap. Dengan waktu tempuh lima belas menit lebih sedikit.

("Karabiner", hal: 234)

diambil dari Fauzan Mukrim FB Note.

Labels: